Saat di dalam perjalanan, waktu balik akan rasa lebih cepat berbanding dengan waktu pergi, sedangkan jarak pergi dan balik itu adalah sama.
Hal ini disebut sebagai ‘Return Trip Effect’.
Advertisement

Saat dalam perjalanan pergi, otak kita lebih cenderung untuk fokus kepada perjalanan dan objek yang kita temui sepanjang jalan. Ketika otak sedang fokus, persepsi otak terhadap waktu juga menjadi lebih lama.

Dalam kajian yang dilakukan oleh sekumpulan penyelidik juga menunjukkan, saat dalam perjalanan pergi, perasaan ‘curious’ atau ingin tahu menyebabkan kita lebih fokus terhadap perjalanan, membuatkan efek psikologi kita merasakan perjalanan terasa lebih lama.
Rujukan:
- Charlton, S. G. & Starkey, N. J. (2013). Why trip home is shorter, but not faster. Hamilton : Australasian Road Safety Research, Policing & Education Conference
- http://www.npr.org/2011/09/05/140159009/why-the-trip-home-seems-to-go-by-fasterpada 4 Desember 2015.
- http://www.latimes.com/science/sciencenow/la-sci-sn-why-does-return-trip-seem-faster-20150610-story.html pada 4 Desember 2015.
- https://www.washingtonpost.com/news/wonk/wp/2015/06/11/scientists-have-discovered-why-the-return-trip-always-feels-shorter-than-the-trip-there/ pada 4 Desember 2015.
- http://www.citylab.com/commute/2015/06/why-the-trip-back-always-feels-shorter/395714/ pada 4 Desember 2015.
- http://www.huffingtonpost.com/2011/09/16/return-trip-effect-journey-back-shorter_n_966055.html pada 4 Desember 2015.
- http://lifehacker.com/5803357/why-does-the-trip-home-always-seem-shorter pada 4 Desember 2015.